Berita Terbaru!! :

Berita Terbaru

Guru Belum Siap Dengan Kurikulum 2013

Admin by Thinkpedia Indonesia on Monday, 16 March 2015 | 07:30

Seminar Nasional Kurikulum di Lantai 5 Aula PPs UNM
Minggu (15/3)
(Foto: Dilla - Profesi)
PROFESI-UNM.COM - Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar seminar nasional mengenai problematika dan implementasi kurikulum di Indonesia, Minggu (15/3).

Dalam workshop tersebut, Tim analisis kurikulum Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sri Winarmi mengatakan, berdasarkan penelitian yang telah ia lakukan, kebanyakan guru belum siap mnghadapi perubahan Kurikulum. 

Faktor itu dikarenakan oleh para guru belum terampil dalam menjalankan Kurikulum 2013 (K13). Selain itu belum adanya ketersediaan buku yang memadai, hingga guru enggan untuk berinovasi.

“Kurikulum 2013 sebenarnya tidak hancur total, tapi sedang dalam perbaikan karena adanya ketidaksesuaian antara ide kurikulum dan desain kurikulum. “ kata kepala Laboratorium School UNY ini. 

K13 bisa dilanjutkan yang jika sekolah yang ditunjuk berada di semester tiga, dengan kata lain sudah menjalani K13 selama delapan belas bulan. Jika dibawah itu harus kembali ke K6. "Kalau sudah tiga semester, itu tetap di K13, kalau ada yang tidak ingin, maka harus membuat surat ke menteri lalu nanti akan diberi keputusan apakah kembali ke 2006 atau tidak.”ujarnya.

Diakhir, Ia menambahkan, di tahun 2018 nanti, semua sekolah sudah harus menggunakan dan menguasai kurikulum 2013. (*)

*Reporter: Andi Nurfadilah

Kemendikbud Target Kurikulum 2013 Rampung Tahun Ini

Admin by Unknown on Saturday, 3 January 2015 | 22:26

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
(Foto: Okezone)
PROFESI-UNM.COM - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menargetkan penuntusan kurikulum 2013 rampung pertengahan tahun 2015 ini. Saat ini Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud sedang melakukan analisis terhadap substansi Kurikulum 2013.

"Sekarang sedang digodok dan diharapkan pertengahan 2015 sudah dilaporkan kepada menteri," ungkap Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, H Mahsun, seperti dilansir Okezone.com, Sabtu (3/1).

Mahsun menambahkan, analisis ini merupakan perwujudan penerapan Kurikulum 2013 secara penuh pada 2019 hingga 2020 mendatang. Hal ini sesuai dengan peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan (Permendikbud) Nomor 160 tahun 2014 tentang Pemberlakukan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013.

"Permendikbud Nomor 160/2014 bukan menghentikan Kurikulum 2013, tetapi memberikan masa transisi yang lebih panjang. Kalau dulu masa Pak Nuh, transisi tiga tahun, tetapi karena masih terjadi persoalan dalam implementasi, maka menteri menambah masa transisi pelaksanaan selama satu tahun," bebernya. (*)

*Reporter: Ari Maryadi

Eko: Kurikulum 2013 Butuh Perhatian Khusus

Admin by Imam Rahmanto on Thursday, 9 May 2013 | 23:50

Prof. Eko Hadisudjiono menyampaikan ulasannya tentang Kurikulum 2013. (Asran-Profesi)
PROFESI-UNM.COM - Menyikapi Kurikulum 2013 yang sebentar lagi memasuki penghujung diberlakukannya, salah satu pemerhati kurikulum, Prof. Dr. Eko Hadisudjiono, M.Si mengungkapkan wanti-wantinya kepada tim perumus Kurikulum 2013. hal tersebut disampaikannya ketika memaparkan materi dalam Seminar Nasional yang dilangsungkan Himpunan Mahasiswa Teknologi Pendidikan (Himatep) di aula gdeung Pascasarjana (PPs) UNM, lantai 5, Kamis (9/5) pagi tadi.

"Kita perlu memikirkan cara untuk mengatasi permasalahan yang akan timbul sebagai imbas dari kurikulum ini (Kurikulum 2013, red). Sebagai contoh, di kurikulum ini jam pelajaran SD maupun SMP ditambah, maka imbasnya waktu pelajaran dalam sehari pun bakal bertambah atau bisa jadi lebih padat lagi," terang dosen yang juga merupakan Pembantu Rektor IV UNM ini.

Oleh karena itu, ia menyangsikan, jika waktu sekolah yang saat ini sedang berjalan, yakni masuk pagi - masuk siang masih bisa diberlakukan ke depannya. Tentu, masing-masing sekolah harus memikirkan langkah alternatifnya. "Jadi, mau tidak mau Tim Perumus yang ada disini harus menyampaikan keluhan-keluhan maupun saran dari peserta yang ada disini ke pusat," ujarnya sedikit bercanda di sela-sela pemaparannya saat menanggapi pertanyaan dari salah seorang peserta seminar.

Prof. Dr. Ana Suhaena selaku tim perumus Kurikulum 2013 yang hadir dan menjadi pembicara dalam seminar itupun hanya bisa tersenyum menanggapinya. Ia sendiri paham betul tentang polemik yang sedang melanda kalangan pendidikan di Indonesia terkait bakal diberlakukannya Kurikulum 2013 ini. (*)


*Reporter: Imam Rahmanto

Porsi Pengajaran Sastra Menipis di Kurikulum 2013

Admin by Imam Rahmanto on Wednesday, 6 March 2013 | 09:45

Peserta sedang serius mengikuti seminar nasional sastra yang dilaksnakan di gedung PPs UNM, Selasa (5/3). (David-Profesi)

PROFESI-UNM.COM - Kurikulum 2013 yang sementara digodok pemerintah kian menjadi perbincangan menarik. Terbukti dengan maraknya seminar atau workshop yang mengangkat tema mengenai Kurikulum 2013, tak terkecuali bagi Universitas Negeri Makassar sendiri.

Salah satu acara yang diselenggarakan oleh mahasiswa program studi Ilmu Pendidikan Bahasa S-3 PPs UNM mengangkat tema yang serupa, Selasa (05/03). Acara yang digelar di aula lantai 5 PPs UNM ini mengupas habis tentang Kurikulum 2013 dengan menghadirkan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Prof. Dr. Mahsuri yang juga terlibat dalam tim kurikulum 2013.

Arifuddin selaku Ketua Penitia Pelaksana yang sekaligus me-moderatori acara tersebut mengungkapkan bahwa kurangnya minat siswa akan sastra dikarenakan kurangnya porsi pembelajaran sastra pada kurikulum. “Diketahui bersama bahwa sastra itu tidak terlalu diminati oleh pelajar mulai dari SD sampai SMA karena kurikulumnya yang tidak memberikan porsi banyak kepada pembelajaran sastra. Kalaupun ada pembelajaran sastra pada kurikulum, hal itu sifatnya implisit sehingga diperlukan interpretasi-interpretasi guru bahasa Indonesia,” terangnya.

Arif menambahkan, dalam kurikulum 2013, pelajaran mengenai Sastra akan diajarkan pada tingkat kelas VII sehingga dapat menyebabkan anak di Sekolah Dasar akan mengabaikan sastra. “Nanti diajarkan sastra pada kelas VII artinya pada SD pelajaran sastra ini ditinggalkan. Padahal kalau kita mau membangun minat dan bakat peserta didik mestinya diajarkan sejak SD sebagai pondasi/ fundamen sastra,” tuturnya.

Di akhir, Arif menegaskan bahwa selain minat siswa terhadap Sastra akan menurun, bukan hanya karena tidak dapat banyak porsi dari kurikulum tetapi juga karena kurangnya kemampuan sastra yang dimiliki guru bahasa. “Jadi jangan salahkan siswa tapi salahkan pada kurikulum yang tidak memberikan porsi banyak. Dan ingat bahwa tidak semua guru bahasa bisa mengajarkan sastra,” tegasnya. (*)


*Reporter: A. Sri Mardiyanti

Lulusan BK Tidak Terpakai

Admin by Unknown on Thursday, 27 December 2012 | 11:40

Wisudawan yang bakal berkompetisi di dunia kerja. (Rizki-Profesi)
PROFESI-UNM.COM - Lahirnya kurikulum baru ini, Bimbingan Konseling sebagai salah satu elemen pengembangan diri siswa malah namanya tidak tercantum dalam kurikulum ini. Akhirnya, para guru bimbingan konseling malah kebingunan, nama jurusan itu tidak tergambarkan lagi posisinya dalam kurikulum ini. Inilah yang kemudian membuat lahirnya keresahan pada konselor-konselor UNM.

Menanggapi hal itu, Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling (BK), Abdullah Pandang, menilai kurikulum ini seakan orientasinya hanya sekadar menulis, membaca dan menganalisa melulu saja, seakan semua siswa bisa belajar dengan sendirinya saja, padahal kenyataannya banyak siswa yang memiliki banyak masalah, tidak mungkin guru mata pelajaran bisa mengatasi semua itu.

“Paling tidak kan yang saya baca itu, memang semuanya hanya pada mata pelajaran saja. Kita yakin kita tidak akan hilang,saya menganggap ini kita tidak terancam,” tuturnya.

Abdullah menambahkan telah melakukan pertemuan melalui forum Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN) di Jakarta mengenai sikap para konselor itu. Berdasarkan pertemuan, ia telah mengirim somasi ke Kemedikbud mengenai permintaan wajib hadirnya posisi BK dikurikulum ini.
“Yang kami tegaskan ini, adalah bagaimana posisi BK nanti, harus jelas dalam kurikulum, selama ini kan BK di beberapa tempat kita tidak pernah memiliki jam tertentu, selama ini kan BK hanya beriorentasi pada kliniks dan koreksi,”tegasnya. (*)


*Sumber: Tabloid Cetak

UNM Bakal Terobok-obok

Universitas Negeri Makassar. (Rizki-Profesi)

PROFESI-UNM.COM - Belum usai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 “menjajah” pendidikan Indonesia, pemerintah kembali menggodok “kader” kurikulum yang baru, Kurikulum 2013. Kurikulum yang tinggal menanti proses pengesahan ini bakal merampingkan beberapa mata pelajaran di SD, SMP, maupun SMA, bahkan ada yang dihapuskan. Lantas bagaimana nasib Jurusan yang ada UNM, tentu peluang kerja mahasiswa akan semakin sempit.

Selama era reformasi, ini adalah ketiga kalinya kurikulum ditelaah dan dikembangkan dalam skala nasional setelah Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Publik sedang menantikan perubahan seperti apa dan apa yang akan ditawarkan dalam kurikulum baru serta dampak apa yang bisa diharapkan pada keluaran sistem pendidikan ke depan, sebagai akibat dari intervensi pemerintah melalui pengembangan kurikulum ini.

Menyikapi hal ini, UNM tentu tidak boleh berdiam diri. Sebagai Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) mau tak mau bakal kena imbasnya, terutama dalam menyikapi banyaknya Jurusan yang terintegrasi dan bakal dihapus sebagai mata pelajaran dalam sekolah nanti.  Sementara Jurusan-jurusan itu masih sedang hangat-hangatnya dibina di kampus pencetak generasi Oemar Bakrie ini.

Seperti IPA dan IPS yang bakal terintegrasi dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan Pendidikan Kewarganegaraan. Sementara Bahasa Inggris, tidak lagi dipakai di SD. Tak hanya itu, mata Pelajaran TIK,  Bimbingan Konseling, dan Bahasa Daerah, parahnya ketiga Jurusan itu tak lagi disentuh kurikulum.

Menurut Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNM, Abdul Salam, Kurikulum 2013 lahir karena menyesuaikan dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sekarang.

Perkembangan zaman menuntut untuk diubahnya kurikulum yang lebih mengutamakan pengembangan potensi dan kemampuan siswa dalam penguasaan mata pelajaran dengan berbasis teknologi dan moral. Sehingga, ia menganggap,  kurikulum memang harus berubah. Untuk pemberlakuannya sendiri, masih menurutnya, direncanakan pada tanggal 1 Jui 2013. Akan tetapi, batas pemasukan saran dan kritik melalui Uji Publik di website resmi Kemendikbud sampai tanggal 24 Desember. “Diharapkan tahun ajaran semester genap 2013 sudah berlaku,” ujar dosen yang menjadi wakil UNM untuk uji publik kurikulum 2013 ini.

“Kurikulum 2013 tetap berbasis kompetensi, artinya semua sebaran mata pelajaran di dalamnya selalu diukur dari kompetensi. Bagaimana caranya membantu siswa agar bisa menguasai semua tagihan kompetensi yang ada di mata pelajaran, di ranah satuan pendidikan apapun,” ujarnya.

Selain itu, ia tidak menyangkal jika dianggap kurikulum yang baru ini bakal tidak jauh berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Kurikulum 2013 tetap berbasis satuan pendidikan, artinya tetap diberi kewenangan terhadap sekolah untuk me-manage kurikulum itu. Jadi, ia menegaskan, pada dasarnya Kurikulum 2013 masih sama dengan KTSP, meskipun dalam ranah kontennya ada banyak perampingan mata pelajaran.

Pembatu Rektor IV, Eko Hadi Sudjiono menilai penggantian kurikulum ini sudah pantas. Terlebih, ia melihat selama ini siswa terlalu banyak dibebani dengan mata pelajaran.

Menurutnya, kurikulum ini tujuannya untuk menghindari pengkotak-kotakan jurusan antara IPA, IPS dan Bahasa selama masa sekolah. “Tujuannya ini kan agar tidak ada lagi pengkotak-kotakan, misalnya dulu kan kalau siswa jurusan IPA dianggap pintar, padahalkan tidak seperti itu, IPS juga banyak orang pintar,” tutur Direktur P3G UNM ini.

Ia malah meminta UNM untuk mempersiapkan diri menghadapi kurikulum terbaru ini. Pasalnya, dengan adanya kurikulum ini akan mendapat banyak perombakan, terutama perbaikan pada kualitas alumni. “Yang perlu disiapkan adalah bagaimana perbaikan kualitas alumni kita, jangan sampai alumni kita ini tidak siap nanti menghadapi dunia kerja nanti,” ungkap salah satu dari delapan tim inti kurikulum 2013 ini.

Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Sulawesi Selatan, Ramli Rahim, memandang baik adanya kurikulum baru 2013 dimana beban siswa dengan banyaknya mata pelajaran menjadi lebih ringan karena berkurangnya mata pelajaran. “Saya kira kita sepakat bahwa siswa itu memang terbebani dengan banyaknya mata pelajaran. Terutama di SD, lebih 10 mata pelajaran saya kira memang terlalu berat. SMP dan SMA pun juga sama dengan 17 mata pelajaran, itu sangat berat,” terang Ramli.

Ramli menyayangkan dalam perumusan Kurikulum 2013 tersebut, Kementerian Pendidikan Nasional tidak melibatkan guru dan organisasi guru. “Kurikulum ini kan tiba-tiba muncul sementara guru dan organisasi guru tidak dilibatkan dalam proses penyusunannya,” sesalnya.

Lebih jauh, Ramli mengatakan pada penggabungan mata pelajaran masih membutuhkan kajian bagaimana mengintegrasikannya. “Kan repot bagaimana menggabungkannya, masalah yang serius tidak ada proses yang dilalu secara instant,” jelas pria kelahiran Kabupaten Maros ini. Untuk itulah, menurutnya, pelibatan guru dan organisasi profesi guru penting. (*)


*Sumber: Tabloid cetak

Ada Muatan Politis di Pergantian Kurikulum

Admin by Unknown on Sunday, 23 December 2012 | 22:05

(Int)

PROFESI-UNM.COM - Kurikulum yang berlaku di Indonesia seharusnya berlaku selama 10 tahun lamanya. Hal itu diungkapkan oleh Ketua jurusan KTP FIP UNM, Pattaufi selaku pengamat kurikulum pendidikan Indonesia. Akan tetapi, dalam kenyataannya, kurikulum seringkali berganti-ganti sebelum mencapai masa "habis berlakunya".

Selain itu, Pattaufi sangsi jika kurikulum 2013 ini bakal berlaku sampai 10 tahun mendatang. Menurutnya, pemberlakuan kurikulum di Indonesia selama ini selalu saja ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu yang memuat unsur politis. “Istilah ganti menteri, ganti kurikulum yang berkembang selama ini bisa jadi benar. Apalagi kurikulum kan berlaku secara nasional, termasuk kurikulum baru ini nantinya,” ujarnya.

Tidak berbeda, Ketua FK-PAGI, Nurdin membenarkan, setiap ada pergantian menteri selalu saja akan ada perubahan kurikulum. “Kita tidak bisa menampik hal seperti itu, apalagi kita hanya sebagai pelaksana saja. Imbasnya, siswa malah jadi kelinci percobaan,” tegasnya.

Meskipun demikian, Abdul Salam mengatakan pihak-pihak yang melemparkan pernyataan ganti menteri, ganti kurikulum, hanyalah orang-orang yang tidak mengerti betul mengenai kurikulum. Sebagaimana berkembangnya teknologi, maka kurikulum maupun sistem pendidikan sudah sewajarnya menyesuaikan diri. “Kurikulum harus dipacu scepat mengikuti perkembangan zaman,” tampiknya. (*)


*Reporter: Imam Rahmanto

PD I FIK Siap Penjaskesrek Dihapuskan


PROFESI-UNM.COM - Jelang penerapan kurikulum 2013, beredar kabar mata pelajaran penjaskesrek akan beralih status menjadi program ekstrakulikuler. Bahkan mata pelajaran penjaskesrek diisukan akan dihapus sebagai mata pelajaran sekolah menengah atas dan sederajat.

Namun, pembantu dekan bidang akademik fakultas ilmu keolahragaan (FIK), Baharuddin mengatakan belum mengetahui kebenaran isu tersebut. "Saya tidak mau berkomentar kalau yang masih mungkin-mungkin. Saya juga belum pernah liat itu kurikulum," paparnya.

Baharuddin menyatakan, apabila kurikulum 2013 sah diberlakukan, dirinya siap menerima semua keputusan meskipun mata pelajaran penjaskesrek dihapuskan. Bahkan, Baharuddin tidak mau ambil pusing perihal nasib mahasiswa penjaskesrek yang berpeluang besar menjadi guru mata pelajaran tersebut. "Tidak selalu mahasiswa yang lulus itu jadi guru,"singkatnya.

Menurut Bahrani, semua keputusan dan ketetapan yang berada didalam kurikulum nantinya wajib untuk dipatuhi bagaimanapun alasannya. "Jangankan penjaskesrek yang dihapus, Negara saja kalau mau dihapus bisa," bebernya. (*)


*Reporter: Muhammad Yasir

Kualitas Guru Lebih Penting

Admin by Imam Rahmanto on Saturday, 22 December 2012 | 22:20

(int)
PROFESI-UNM.COM - Kurikulum 2013 masih saja menuai banyak pro-kontra dari masyarakat. Sebagian besar masyarakat yang banyak bergelut di dunia pendidikan mayoritasmenyatakan keraguannya terhadap keefektifan pemberlakuan kurikulum itu nantinya.

Ketua Forum Komunikasi Pengkajian Aspirasi Guru Indonesia (FK-PAGI) Sulsel, Nurdin mengungkapkan, kurikulum-kurikulum yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman nyatanya tidak lebih baik dibandingkan kurikulum yang ia jalani semasa sekolah dulu. "Saya malah merasa kurikulum yang dulu itu lebih baik daripada sekarang," paparnya. Lanjutnya, bukan pada persoalan kurikulumnya yang menjadi permasalahan pendidikan di Indonesia, melainkan kualitas guru yang saat ini tersebar di seluruh sekolah.

"Saya melihat masih kurang dilakukan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Kebanyakan, pelatihan yang dilaksanakan itu hanya sebatas konsep atau teori, semisal pembuatan RPP, silabus, dan sebagainya," tegasnya. Oleh karena itu, menurutnya, di samping mengubah-ubah kurikulum, aa baiknya jika memperbaiki kualitas guru. "Utamanya yang ada di daerah terpencil," imbuhnya lagi.

Hal itu dibenarkan oleh Ketua Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan (KTP) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNM, Pattaufi. Ia senada jika hal pertama yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah memperbaiki kualitas guru di Indonesia. "Sebenarnya, kurikulum 2013 itu pada konsepnya akan sama dengan kurikulum sebelumnya (KTSP, red), hanya beberapa substansi saja yang berbeda. Padahal, kurikulum jenis apapun itu yang bakal diberlakukan, tidak akan berhasil jika implementasinya di lapangan oleh guru melenceng dari isi kurikulum," jelas Pattaufi.

Selama ini, guru-guru hanya memanfaatkan metode ceramah untuk mengajar di kelas. Hal tersebutlah, menurut Pattaufi, yang menunjukkan sangat minimnya kualitas guru sekarang. "Masih banyak guru yag belum paham betul dengan kurikulumnya," ujarnya.

Kurikulum 2013 sendiri akan diberlakukan setelah menyaring saran dan kritik yang dimasukkan masyarakat melalui Uji Coba Publik Kurikulum 2013. Jika disetujui, maka kurikulum itu resmi akan menjadi kurikulum berikutnya dalam sejarah kurikulum Indonesia. (*)


*Reporter: Imam Rahmanto

Mata Pelajaran IPA dan IPS Dihapuskan

Struktur usulan Kurikulum 2013 untuk SD. (int)
PROFESI-UNM.COM - Salah satu perubahan yang ada pada kurikulum 2013 yang akan diberlakukan di bulan Juli 2013 mendatang adalah dihilangkannya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dari jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD). Berdasarkan draf yang telah beredar secara online, kedua mata pelajaran tersebut akan diintegrasikan atau dilebur ke dalam mata pelajaran yang lainnya, seperti Bahasa Indonesia maupun Matematika.

Abdul Salam, salah seorang dosen Bahasa Indonesia mengatakan, kompetensi-kompetensi yang telah ada sebelumnya pada KTSP 2006 disetting ulang, sehingga yang tadinya muncul di mata pelajaran IPA, ternyata di Bahasa Indonesia muncul. "Katakanlah, seorang guru kelas yang mengajarkan bahasa Indonesia harus bisa membahasakan apa itu daun, akar, atau pohon," paparnya dosen yang menjadi salah satu perwakilan UNM untuk melaksanakan Uji Publik di pusat.

Lanjutnya lagi, dari segi mata pelajaran di jenjang pendidikan SD memang berkurang, dari 10 mata pelajaran menjadi 6 mata pelajaran. Tetapi dari segi bobot malah bertambah, apalagi dari segi jam belajar.

Akan tetapi, Mushawir, Ketua Jurusan Biologi FMIPA UNM mengungkapkan kekhawatirannya terhadap perubahan kurikulum itu. Terlebih dengan dileburkannya mata pelajaran IPA ke mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ia menganggap akan terjadi kerancuan jika pokok bahasan IPA dipaksakan masuk ke dalam pelajaran Bahasa. "Ini tidak cocok. Sangat tidak cocok. Karena tidak semua substansi dari IPA bisa begitu saja dijelaskan melalui Bahasa Indonesia, apalagi ini adalah bidang eksak," tegas Mushawir.

Selain itu, ia menyarankan para perumus Kurikulum 2013 di Kemendikbud untuk mempertimbangkan ulang perihal penghilangan mata pelajaran itu. Ada baiknya jika pemerintah lebih memperhatikan kualitas guru dibanding mengubah-ubah sistem kurikulum. (*)


*Reporter: Imam Rahmanto


Kurikulum 2013 Minim Sosialisasi

Admin by Unknown on Friday, 21 December 2012 | 08:35

int.
PROFESI-UNM.COM - Kurikulum 2013 yang rencananya bakal diberlakukan di bulan Juni 2013 masih menuai banyak tanggapan dari beberapa pelaku pendidikan. Salah satunya, mengenai sosialisasinya yang terkesan ditutup-tutupi. Hingga kini, guru-guru di sekolah dasar maupun sekolah menengah mengaku tidak banyak tahu mengenai Kurikulum 2013. Mereka mengetahui informasi tentang kurikulum tersebut melalui media internet maupun berita-berita di media massa.

Seperti yang dialami Hamka, Kepala Sekolah SMAN 1 Alla di Kabupaten Enrekang. Ia belum paham betul menegnai pemberlakuan kurikulum 2013 itu nantinya seperti apa. Ditambah lagi, menurutnya, ada beberapa kerancuan yang ditemukannya dalam draf yang ia unduh melalui situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). "Kita masih kabur persoalan kurikulum 2013, apalagi tidak ada proses sosialisasi dari Dinas Pendidikan setempat," paparnya.

Sementara itu, Ketua Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan (KTP) Fakultas Ilmu Pengetahuan (FIP) UNM, Pattaufi juga mengeluhkan hal yang sama. Ia mendapatkan infonya juga melalui internet. Meskipun ia sudah jauh hari mengetahui tentang wacana Kurikulum 2013, namun pihaknya hingga kini masih belum mendapatkan sosialisasi dari universitas maupun Kemenikbud sendiri. Padahal, tambahnya lagi, pihaknya sementara ini baru akan mengkaji mengenai kurikulum baru itu. "Kami sebenarnya sudah bersiap-siap membantu untuk proses sosialisasinya, jika diberlakukan. Hanya saja ternyata sampai sekarang dari pusat (Kemendikbud, red) belum memberikan gambaran jelas bagi kami," risaunya.

Dosen asal Jeneponto ini menambahkan, seiring dengann pergantian kurikulum, secara tidak langsung ada unsur-unsur poitik di dalamnya. "Makanya wajar jika berkembang pernyataan Ganti menteri, ganti kurikulum, karena belum selesai kurikulum yang satu dijalankan, yang seharusnya 10 tahun, diganti lagi dengan kurikulum lainnya," paparnya. (*)


*Reporter: Imam Rahmanto

Kurikulum 2013, Wajah Baru KTSP

Mendikbud, Muh. Nuh. (Rizki-Profesi)
PROFESI-UNM.COM - Pendidikan Indonesia kembali akan mendapat angin segar dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Setelah mengevaluasi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, diputuskan akan diberlakukan kurikulum baru menggantikan KTSP, yakni Kurikulum 2013.

Hal tersebut, menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muh. Nuh berdasar pada perkembangan zaman yang menuntut untuk perubahan kurikulum. Selain itu, hasil evaluasi menunjukkan jumlah mata pelajaran di Sekolah Dasar (SD) terlampau banyak untuk belajar anak SD. "Yang dibutuhkan adalah kreativitas. Kita butuh modal pengetahuan. Tapi, itu saja tidak cukup. Jadi harus ada unsur produktif, kreatif, inovatif dan afektif. Ke depan kita butuh anak-anak yang seperti itu," papar Nuh yang dikutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Ia memaparkan, untuk menumbuhkan kreativitas anak-anak akan diajarkan cara mengamati, memanfaatkan indrawi untuk melihat fenomena. "Selain itu kita dorong untuk bertanya, menalar, sampai mencoba sendiri dan bereksperimen," jelasnya. Terkait hal itu, maka struktur Kurikulum 2013 akan banyak berubah dari kurikulum sebelumnya. Berdasarkan draf yang telah disebarkan melalui Uji Publik virtual oleh Kemendikbud, beberapa mata pelajaran di sekolah dasar maupun menengah dikerucutkan atau diintegrasikan ke dalam pelajaran lainnya. Untuk jam pelajarannya, seluruh jenjang sekolah mendapat tambahan jam pelajaran dari 4-6 jam pelajaran.

Lebih jauh, Nuh mengungkapkan, waktu uji publik yang dilaksanakan hanya selama 3 minggu dirasanya cukup. Tentang masukan-masukan yang akan diterima, akan dikelompokkan tentang kurikulum dan tentang implementasi kurikulum. "Tentang kurikulum itu sendiri kan terdiri dari kompetensi lulusan, isi, proses, dan penilaian. Kira-kira dari 4 itu mana yang perlu ditambahkan. Dari masukan yang banyak tersebut, oleh tim pakar akan di-review. Tentu saja tidak semua masukan kita terima, kalau semua masukan kita terima itu berarti nggak mikir," jelasnya.

Hingga kini, Uji Publik mengenai Kurikulum 2013 masih dibuka di situs kurikulum2013.kemdikbud.go.id, sambil menunggu masukan dari seluruh pelaku pendidikan ddi Indonesia. Rencananya Uji Publik akan berakhir tanggal 23 Desember 2012. (*)


*Reporter: Imam Rahmanto