Berita Terbaru!! :

Berita Terbaru

Nabilah JKT48 dan Satpam Sangarnya

Admin by Unknown on Wednesday, 20 August 2014 | 04:18

Member JKT48 saat bertandang di UNM Kampus Gunung Sari, Selasa (19/8).
(int)
PROFESI-UNM.COM - Siapa yang tak kenal Nabilah? Dara kelahiran Jakarta 19 November 1999 , Nabilah Ratna Ayu Azalia memilki fans terbanyak tak terhitung jumlahnya di Indonesia, khususnya di Makassar, dari kalangan siswa sampai Mahasiswa. Bertandangnya Member JKT48 ini ke Universitas Negeri Makassar tepatnya di depan gedung Rektorat Lama Kampus Gunung Sari UNM sontak membuat riak seluruh mahasiswa-mahasiswi UNM. Nabilah yang saat itu mengenakan baju putih orange khas salah satu produk pembalut sesekali menyapa fans dari kejauhan sambil memperlihatkan senyum gingsul dan lesung pipi imut-imutnya yang khas.

Bersama kedua member JKT48 lainnya, Nabilah meladeni keinginan fans untuk berfoto bersama di panggung acara. Namun, ternyata yang hanya boleh berfoto dengan Nabilah hanyalah kaum perempuan saja, bahkan fans yang kebanyakan laki-laki dilarang mendekat untuk menyapa saja. Akhirnya mereka hanya mampu berteriak dari kejauhan memuja Nabilah, Sonya, Naomi bergantian.

"Nabilaahhh, bill gua cuma mau ketemu bill please, Sonyaa, Naomiii," teriak penggemar.

Nabilah ternyata punya "benteng" yang begitu kokoh. 2 lelaki yang mengenakan pakaian biru bertuliskan "security" memupuskan harapan para fans cowok untuk bersua sejenak bersama Nabilah. Penjagannya pun tak main-main, Sesekali 2 bodyguard itu tak segan untuk menegur para pengunjung lelaki yang dianggap "offside".

Bermodalkan kumis yang agak tebal dan memiliki body yang besar, para penggemarnya harus berjuang dan memutar otak. Para fans terpaksa bermain kucing-kucingan demi menyaksikan lebih dekat andalan mereka.

Ditambah lagi tim security yang membentengi sekitaran panggung agar tak dimasuki fans anarkis. Mereka dengan wajah sangarnya menggertak tiap fans laki-laki yang sesekali hendak mencoba menerobos batas yang dibuat panitia, mereka yang tingginya rata-rata 180-an dan berbadan kekar dengan mudahnya mengusir fans laki-laki yang seharusnya memang tak masuk antrian berfoto.

Kunjungan JKT48 yang mendadak ini, membuat fans-fans yang tidak tahu kedatangan sang idola ini sebelumnya, banyak meluapkan kekecewaannya di media sosial, terlebih mereka yang tak sempat bertemu walaupun cuma dilihat dari kejauhan. Nurfadly, misalnya, salah satu fans berat Nabilah, mengungkapkan kekecewaannya di media sosial. "Maukumi gang pergi liat Nabila, nalarangka pak Desaku," ungkap Fadly yang saat ini sedang melaksanakan salah satu mata kuliah wajibnya yaitu KKN.

Pria kelahiran Soppeng ini mengaku punya banyak koleksi foto serta album lengkap JKT48 di handphone kesayangan yang katanya dia beli dari hasil tabungannya selama setahun waktu kelas 3 SMA dulu.

Namun sungguh sayang, dia harus melampiaskan kekecewaanya di media sosial akibat tidak bisa bertemu langsung dengan sang idola apalagi di "rumah sendiri" sebuah momen yang sangat langka baginya. (*)

*Reporter: Mentari Jati Pratiwi

Asramaku Sayang, Asramaku Malang

Admin by Imam Rahmanto on Wednesday, 6 March 2013 | 08:05

Seorang mahasiswa melintas di depan asrama FIK. (Rizki-Profesi)
PROFESI-UNM.COM - Bangunan itu masih tampak sepi, hanya ada satu dua orang yang tampak sibuk berlalu-lalang disana. Bangunan yang masih terlihat asri dan tenang, meski sedikit terlihat ‘mistis’. Berdinding lumut dengan jejeran pohon-pohon besar di sekitarnya menambah ‘kemistisan’ bangunan yang terletak di area kampus FIK ini.

Aspura (Asrama Putra) UNM,  seperti itulah tulisan yang terpampang di depan bangunan itu, tulisan yan masih menandakan bangun itu masih terpakai, bangunan yang sudah tidak muda lagi tentunya.  Belasan penghuni yang menggantungkan nasib dari bangunan tua itu, namun tinggal menghitung hari bangunan itu sebentar lagi akan dirobohkan.

Arman salah satu penghuni Aspura mengaku belum lama menempati Aspura tersebut, tapi tempat itu sudah ia anggap sebagai rumah keduanya yang kabarnya akan dijadikan taman baca. “Kalau saya belum cukup satu tahun disini kak, tapi kan saya sudah terbiasa disini,” ungkapnya.

Mahasiswa jurusan Ilmu Keolahragaan (Ilara) ini melanjutkan ceritanya, ia pasrah dengan keputusan Birokrat untuk merobohkan bangunan yang sudah beberapa tahun lamanya menjadi rumah para mahasiswa yang memilih menjadikannya istana. “Kalau saya kak, mungkin akan cari tempat kost yang dekat dari kampus juga,” ujarnya pasrah.

Kesunyian masih mengusai bangunan itu, hanya terdengar kicauan burung-burung yang mungkin seperti menjadi bentuk protes mereka, tak rela atap bangunan yang juga menjadi tempat tinggal mereka akan dirobohkan.
Arman kembali menambahkan bahwa Pembantu Dekan bidang Administrasi Umum (PD II) pernah menjanjikan sebuah gedung untuk dijadikan Aspura baru, namun saat ini gedung  tersebut sudah lebih dulu ditempati peserta Program Pendidikan Guru (PPG).

Tak hanya Arman yang perlu bergegas mencari tempat tinggal baru, belasan penghuni lainnya juga sudah bersiap-siap meninggalkan paksa Aspura tersebut. Menanggapi hal itu Arifuddin Dekan FIK menyatakan bahwa Aspura  yang terletak di area kampus hanya menganggu pemandangan. “Aspura itu hanya menggangu pemandangan, jadi rencananya nanti akan kami buat taman baca mahasiswa FIK,” paparnya. (*)


*Reporter: Andini Ristyaningrum

32 Tahun Mengabdi dengan Sepeda Butut

Admin by Unknown on Tuesday, 13 November 2012 | 00:12

Selama tiga puluh dua tahun ia mengabdi di kampus pencetak Oemar Bakrie ini. Setiap harinya ia mengayuh sepeda antiknya dari kediamannya menuju rektorat UNM.
Palle, satpam kampus yang telah me-
ngabdi 32 tahun di UNM. (Rizki/
Profesi)
Gedung rektorat siang itu masih saja ramai, sesekali terlihat  pejabat-pejabat kampus yang sibuk berlalu lalang keluar masuk gedung yang diduduki oleh para pejabat tertinggi universitas.

Angin berhembus sepoi, waktu menindih pukul 13.50 WITA gedung itu masih belum menampakkan kesunyian. Di sebelah kanan pintu masuk berdiri seorang pria berseragam putih biru, badannya tegap dan berisi, ia orang yang  selalu setia menyambut para tamu yang hendak memasuki gedung rektorat. Tak pernah ia lupa untuk menyunggingkan satu senyuman untuk para pengunjung yang datang.Ia adalah salah satu satpam gedung rektorat yang bertugas menjaga di pintu masuk. Namanya Palle, nama yang cukup unik di zaman sekarang ini. Namun, ia tak pernah merasa aneh dengan nama itu, baginya nama itulah yang membuat orang selalu ingat dengannya. “Nama ku ini memang pendek, tapi gampang diingat sama orang, “ujarnya sembari tersenyum.

Selama 32 tahun ayah dari lima orang anak ini telah mengabdi di kampus pencetak umar bakri ini. Banyak suka duka yang ia lalui selama pengabdiannya. Ia hendak melanjutkan ceritanya, dengan menarik sebuah kursi yang ada di sudut sebelah kanan pintu masuk. Kursi itu tempat ia melepas lelah, kala rektorat tak lagi ramai dikunjungi. “ Kalau saya mau cerita dari awal saya di sini nak, uu..panjang ceritanya tidak selesai satu hari, hehe...” ungkapnya sedikit bercanda.

Setiap harinya pria kelahiran Jeneponto ini harus mengayuh sepeda antiknya  dari kediamannya yang terletak di Jl. Andi Tonro II menuju  rektorat UNM. “Kalau saya kesini itu naik sepeda nak. Itu sepedaku saya parkir di bawah pohon di dekat gerbang, biar pencuri tidak ada yang mau ambil,” ungkapnya sambil menunjuk ke arah sepedanya terparkir. Ia juga mengaku bahwa ia pandai mngendarai sepeda motor, tetapi ia belum mampu untuk membelinya. “Saya pintar ji naik motor sebenarnya, tapi kan yang ada cuma sepeda, kita juga mampunya cuma bisa beli sepeda,” lanjutnya.

Pria yang tercatat sudah dua kali menikah ini dulunya merupakan lulusan Pendidikan Guru Agama, keinginannya untuk melanjutkan sekolah ternyata belum bisa terwujud. Takdir berkata lain, di tahun 1979 ia akhirnya dipertemukan dengan sebuah tawaran kerja di universitas yang pencetak generasi pendidik ini yaitu menjadi seorang Satuan Pengamanan (Satpam).

Selang beberapa bulan ia bekerja akhirnya ia terangkat dan tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tak pernah ia lupa mengucap rasa syukur, karena kelima anaknya mampu ia sekolahkan, bahkan dua diantaranya sudah meraih gelar sarjana. Istri yang selalu setia mendampinginya adalah kekuatan tersendiri baginya. Sebelumnya pria bertubuh tambung ini sudah pernah berumah tangga, namun di tahun 2006  istrinya harus mengakhiri hidupnya akibat terserang penyakit diabetes. (*)


*Sumber: Tabloid cetak

Mengais Rezeki dari Daun Yang Jatuh

Admin by Unknown on Saturday, 21 July 2012 | 08:46

Umurnya 12 tahun, namun siapa sangka di usianya yang masih belia ia sudah mampu menjadi tulang punggung keluarga. Tepat di bawah sebuah pohon di area gedung Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), penulis duduk bersama seorang anak yang masih menampakkan wajah lelahnya. 

Soleh, si Office Boy cilik.
Anak itu bernama Soleh. “Soleh nama ku kak,” jawabanya setelah penulis menan­yakan namanya.

Sesekali ia mengangkat kepalanya, kemudian memainkan silet yang ia pegangi di tangannya. Soleh merupakan salah satu office boy (OB) di kampus FBS. Dari beberapa OB lainnya, Soleh lah yang paling muda. Anak ketiga dari lima bersaudara ini mengaku tak lagi bersekolah, ia putus sekolah ketika dirinya menduduki kelas enam SD. Ayahn­ya yang hanya berprofesi sebagai tukang becak motor (bentor) membuat ia dan em­pat saudaranya terpaksa harus putus seko­lah. Beruntung, kakak sulungnya bisa melan­jutkan sekolah hingga Perguruan Tinggi (PT). Dialah yang nantinya diharap bisa memperbaiki nasib adik-adiknya kelak.

Soleh kembali menundukkan kepalanya dan melanjutkan bercerita. Sebenarnya ia sangat ingin melanjutkan sekolahnya. “Saya masih mau sekolah, kalau ada rezeki pasti saya lanjut sekolah lagi, kak,” harapnya.

Se­lain karena terkendala pada ekonomi keluar­ga, ternyata berhentinya Soleh dari sekolah akibat kelalaian gurunya. “Dulu sebenarnya sudah mau lulus di kelas 6 SD kak tapi bapakku sudah tidak mampu untuk sekolahkan saya. Ada juga masalah di sekolah, guruku hilangkan raporku, terus tidak mau tang­gung jawab,” sesalnya.

Jelas sekali keke­cewaan yang nampak dari raut wajah putra pasangan Dg.Gading dan Dg.Singara’ ini. Meski begitu, Soleh tetap tegar melan­jutkan kehidupannya. Berkat ajakan tetang­ganya yang merupakan salah satu pegawai di FBS, ia akhirnya siap mengabdikan dirinya di kampus ungu ini. Gaji yang ia terima se­tiap bulannya tak pernah lupa ia sisihkan untuk orang tuanya.

Bersama sepuluh rekan se-profesinya, saban subuh ia mulai mem­bersihkan halaman kampus di FBS. Soleh baru mulai berhenti bekerja saat menjelang siang. Bagi Soleh setiap daun-daun yang gu­gur ke tanah adalah rezekinya. Dengan dialek kental Makassarnya, Soleh mengungkapkan, orang tuanya tidak pernah melarangnya untuk bekerja. “Dari­pada tidak makan kak, lebih baik kerja begini karena kan digaji juga,” ungkapnya sembari memunguti selembar daun kering yang jatuh tepat di bawah kakinya.

Ia merasa sangat ber­syukur dengan pekerjaannya saat ini, ia juga merasa senang bisa selalu bertemu dengan banyak orang. Entah itu rekan se-profesinya atau para penghuni kampus lain yang ia akui tak satu pun ia kenal.

Terkadang, Soleh ingin sekali menebar senyum pada setiap orang yang selalu ia temui di kampus, namun kera­guan selalu menghampirinya. Takut senyum­nya tak terbalas kala ia mengingat bahwa ia hanya seorang OB. Hampir setiap hari Soleh harus menem­puh jalur Parangtambung-Samata bersama sepedanya yang sudah menghampiri antik. Menempuh jarak sejauh itu tentu membuat­nya lelah. Belum lagi ia harus membersih­kan beberapa area kampus agar tetap terlihat indah dan nyaman untuk dipandang.

“Saya sebenarnya mau beli motor kak, karena ka­lau naik sepeda lama, capek juga kak . Biasa juga kalau saya sudah capek sekali saya ber­malam di pos saja sama pak satpam,” ucap­nya sembari tersenyum.

Tak hanya berkeinginan membeli sepeda motor, Soleh juga ternyata punya impian lain. Bukan cita-cita ingin menjadi polisi, dokter, pilot, atau profesi-profesi lain yang lazimnya diimpikan anak seumurnya. Soleh sangat ingin menjadi seorang pegawai, itulah impian terbesarnya saat ini. “ Saya mau jadi peagawai kak, enak kalau jadi pegawai orang mungkin di'?,” tanyanya pada penulis. (*)


*Andini Ristyaningrum

Tetap Berkarya Meski Dibekukan

Admin by Unknown on Wednesday, 19 October 2011 | 08:40

Melodi petikan gitar, teriakan puisi Sembilu, dan lantunan sebuah lagu perempuan berkerudung kuning, kamis itu (29/09) memecah ruang senat lt.III UNM. Rektor UNM lengkap dengan jajarannya duduk di koridor terdepan. Hamsu A. Gani, kala itu tak mampu menahan tangis hingga mengurai air mata. Seorang pria diantara pelantun itu bercerita saat ia bertemu ibundanya di kampung. Baju yang dikenakannya masih sama saat ia kembali ke kampung halamannya.

Bestra saat menunjukkan kebolehannya. (Fajrianto-Profesi)
“Lebih baik Ibu tetap memakai baju ini daripada kau menderita mengejar cita-citamu Nak,” ungkapnya memendam tangis. Hasrul, Kepala Suku Bengkel Sastra (Bestra), mengurai cerita itu di sela pertunjukkannya. 

Meski LK-nya tak lagi dianggap birokrasi, Bestra tetap melakukan pertunjukkan. SK pembekuan tertanggal 26 Agustus 2011 itu  jelas sudah berada di tangan mereka. Walau birokrasi mengeluarkan kebijakan penutupan sekretariat, memblokir kegiatan mahasiswa dan mengancam aktifitas kelembagaan.

Namun, hal tersebut tak menciutkan semangat mereka untuk tetap berkarya. “Lembaga kami, Pengurus kami  memang dibekukan, tapi hati teman-teman kami masih hidup, karya akan terus kami torehkan buat UNM,” tutur lelaki berambut ikal ini. Hal itu pun dibuktikan saat Bestra masih tampil dalam pembukaan Diklat dan Perekrutan anggota baru LPPM Profesi Kamis lalu, (29/09). Para peserta ikut terenyuh menyaksikan pertunjukkan musikalisasi lembaga yang merayakan hari lahirnya 30 September lalu.

”Pertunjukkannya sangat luar biasa, saya sampai meneteskan air mata,”Andini, salah seorang mahasiswa FBS.

Sementara itu, Dekan FBS, Kisman Salija, malah membantah adanya pembekuan lembaga itu. Menurutnya, mereka hanya melakukan pembenahan pada pengurus lembaga bukan menghentikan kerja lembaga “Kami hanya membekukan pengurusnya untuk sementara hingga pembenahan sekretariat mereka selesai,” jelas pria berdarah Enrekang ini. (*)