Berita Terbaru!! :

Berita Terbaru

FMIPA Terapkan Aturan Baru Pemilihan Dekan

Admin by Unknown on Friday, 16 January 2015 | 01:58

Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Makassar.
(Foto: Dok.Profesi)
PROFESI-UNM.COM - Setelah menyelenggarakan dua kali rapat persiapan pemilihan dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Makassar (UNM) Akhirnya diperoleh hasil perundingan dari masing masing ketua jurusan.

Hasil rapat kali ini yakni telah disepakatinya tata cara pemilihan calon dekan FMIPA periode 2015/2019. Calon dekan yang terpilih memiliki kewenangan untuk memilih sendiri wakil calon dekan dan calon pembantu dekannya.

Hal tersebut dijelaskan langsung oleh ketua panitia pembentukan Dekan baru FMIPA Sidin Ali.

"Karena pemilihan dekan untuk periode ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang dipilih oleh senat, jadi harapannya bagaimana memajukan FMIPA ini kedepan agar FMIPA dapat di perhitungkan juga baik di tingkat nasional maupun tingkat international," tuturnya.

Pemilihan calon dekan FMIPA ini akan diselenggarakan pada 28 Januari mendatang.(*)

*Reporter: Andi Indri S. Dahlan

Sofyan Salam: Mahasiswa Pemilih yang Dewasa

Admin by Imam Rahmanto on Tuesday, 8 April 2014 | 09:47

(int)
PROFESI-UNM.COM - Sehari lagi Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 calon legislatif dilangsungkan, Rabu, 9 April. Pertisipasi politik mahasiswa khususnya di Universitas Negeri Makassar (UNM) pun menjadi sorotan di tengah imbauan kepada seluruh warga negara Indonesia menggunakan hak suaranya agar tidak golput.

Bagi Pembantu Rektor Bidang Akademik (PR I), Sofyan Salam, imbaun itu tidak mesti dialamatkan kepada mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa adalah orang yang berpikir dewasa dan mampu menentukan keputusan tepat sehingga tidak perlu ada imbauan untuk tidak golput bagi mahasiswa.

"Mahasiswa itu orang yang dewasa dalam berpikir dan dewasa mengambil keputusan yang tepat, apakah memilih atau tidak dan siapa yang harus dipilihnya," ujar eks Direktur Program Pascasarjana (PPs) UNM ini. (*)


*Reporter: Imam Rahmanto

Pemilu, Dosen dan Mahasiswa Sepakati Perpanjang Libur

(int)
PROFESI-UNM.COM - Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 calon legislatif DPR RI, DPRD I, DPRD II, dan DPD, Rabu 9 April, Pembantu Rektor Bidang Akademik (PR I), Sofyan Salam, menegaskan, hari libur Pemilu ditetapkan hanya sehari di hari yang sama dengan waktu Pemilu. Tak ada libur tambahan pra atau pasca hari Pemilu.

Itu dimaksudkannya untuk mengefektifkan akademik tanpa gangguan yang terlalu signifikan karena adanya Pemilu sehingga tidak ada alasan bagi mahasiswa meninggalkan kuliah pada Selasa dan Kamis. "Kalau mereka menambah hari libur, itu mereka sendiri yang akan rugi," katanya.

Namun sayangnya, imbauan tersebut justru dilanggar. Sebagian besar dosen mengatur kesepakatan dengan mahasiswa untuk menambah libur pasca Pemilu meskipun terdapat jadwal kuliah pada Kamis dan Jumat, 10-11 April.

Misalnya saja, di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE). Pada Kamis dan Jumat terdapat dua mata kuliah di masing-masing hari tersebut. Namun, mahasiswa di prodi tersebut telah memastikan pulang kampung hingga Senin 14 April karena alasan dosen telah menyetujui tidak masuk mengajar.

"Sebenarnya ada kuliah Kamis sama jumat, tapi dosen tidak masuk. Sudah sepakat ki dengan dosen untuk tidak kuliah hari itu karena masih di kampung mahasiswa. Jadi Senin pi baru balik lagi ke Makassar," ungkap Hasriadi Kalara, mahasiswa mahasiswa Jurusan Akuntansi FE asal Selayar. (*)


*Reporter: Khaerul Mustaan

Libur Sehari, Mahasiswa Pilih Tidak Mudik Pemilu

(int)
PROFESI-UNM.COM - Libur yang hanya sehari dan jauhnya jarak daerah asal sebagian besar mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) disinyalir akan menurunkan partisipasi mahasiswa UNM pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 calon legislatif, Rabu (9 April).

Di antaranya, Rahmiati. Mahasiswi Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi (FE) asal Palopo ini mengaku tidak bisa pulang kampung hanya karena Pemilu. Alasannya, ia hanya akan menghabiskan uang yang cukup banyak untuk pulang kampung yang cuma membuatnya beberapa jam saja di Palopo. Sebab, ia akan kembali lagi ke Makassar sesaat setelah memberikan hak suaranya karena esok harinya ia harus mengikuti perkuliahan.

"Repot kalau mau pulang kampung karena jauh kampungku, di Palopo. Belum pi pesan tiketnya, mahal lagi biayanya. Bilang orang tua juga, tidak usah pulang," tutur mahasiswa angkatan 2012 ini.

Untuk daerah Luwu, mahasiswa setidaknya berangkat mudik Selasa malam dan tiba pada subuh Rabu. Kemudian setelah mencoblos, mahasiswa mesti berangkat Rabu siang dan tiba di Makassar Rabu malam agar dapat mengikuti kuliah di hari Kamis. Total biaya yang harus dirogoh tiap mahasiswa untuk daerah Luwu pergi dan pulang, sekira Rp 350 ribu.

Belum lagi mahasiswa yang berasal dari luar Sulsel. Sebagian dari mereka, pulang kampungnya ditentukan jadwal keberangkatan kapal laut atau pesawat. Selain itu, tentunya akan memakan biaya yang lebih tinggi lagi.

Misalnya saja Kardi. Mahasiswa Jurusan PPKn asal Flores NTT ini memastikan dirinya tidak pulang kampung karena jadwal keberangkatan kapal yang tidak sesuai untuk mudik Pemilu dan juga jika akan kembali ke Makassar. "Kapal berangkat Rabu siang dari Makassar ke Flores. Sampai di sana butuh waktu 20 jam. Itu sudah pasti kita tidak bisa ikut Pemilu. Jadwal kapal ke Makassar juga baru ada tanggal 13 April. Paling rendah Rp 400 ribu kita pakai untuk pulang. Satu-satunya cara yaitu dengan pesawat ke Bali dan melakukan penyeberangan antar pulau ke NTT," ungkapnya.

Selain itu, menurut Kardi, jika harus pulang untuk mencoblos, apa yang dihasilkan para wakil rakyat itu jika terpilih nantinya tidak sepadan dengan pengorbanannya dan juga mahasiswa asal NTT lainnya. "Kata orang tua, tidak usah pulang. Lagian janjinya sama saja, padahal sudah korban uang," ujar mahasiswa angkatan 2011 ini. (*)


*Reporter: Khaerul Mustaan